
When Jkt Ain’t That Boring

When Jkt Ain’t That Boring
Just to remind you that lately i’m posting at novi-kresna.blogspot.com. Let’s keep in touch :)
(Source: novi-kresna.blogspot.com)

The slow-mo sweet November :D
Alkisah di suatu masa ada seorang tabib yang sangat menjaga warga di sekitarnya agar tidak mudah terserang penyakit pegal linu.
Karena menurutnya pegal-pegal yang membuat persendian ngilu-ngilu dan berefek pada kurangnya apresiasi terhadap sesuatu yang dinilai “unyu-unyu”. Padahal segala sesuatu yg unyu-unyu, yg membuat bibir kita monyong2 ketika mengucapkan kalimat: “Yaw ampyun Balonyah Unyu-unyu dweh warnanya”..bisa mengalirkan vitamin kebahagiaan ke semua persendian.
Seperti halnya kebahagiaan, pegal linu adalah sesuatu yg ada dalam pikiran. Kalau tulang rasanya pegal-ngilu-linu dan badan tak lg unyu-unyu, itu hanyalah akibat. Bukanlah sebab.
Inilah koyok pegal linu Cap Balon Unyu. Karena pegal linu berasal dari pikiran, jangan ditempelkan pada bagian tubuh yg pegal linu. Tapi tempelkan pada jidat Anda, niscaya khasiatnya melumaskan pikiran Anda yg kusut. Seketika itu juga Anda langsung bisa melihat semua hal tampak Unyu-unyu, seperti saat melihat balon warna-warni kembali di tangan, tak jadi meletus dor! Atau diambil orang…spontan Anda berkata Unyu-Unyu, Balonku warna-warni- kupegang erat-erat, senangnya hatiku…dan raiblah si pegal linu!
*terinspirasi dari doktrin “The Power of Mind : It’s All in Your Mind!”

Koyok Cap Balon Unyu
Bagaimana kita memvisualisasikan sesuatu, itulah yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Sayangnya kita terbuai oleh visualisasi sinetron -dan yang setiap episodenya dibuat selalu seru.
Sayangnya kita terbuai oleh berita-berita koran yang jarang menampilkan visualisasi yang baik tentang bangsa sendiri. Terbuai oleh kasus demi kasus yang menarik untuk diperbincangkan, makin digosok makin sip dan toh, akhirnya akan terlupakan jika muncul kasus yang lebih seru dan menarik. Bahkan, walaupun sering menghindar, telinga sering kecolongan harus mendengarkan lagu cengeng mendayu-dayu oleh tayangan televisi setiap pagi.
Ini bukan terjadi akhir-akhir ini. Ingatan saya tentang visualisasi yang indah dari media, cuma ketika saya di taman kanak-kanak. Saya sudah bisa baca tulis sejak TK, tetapi yang saya konsumsi hanya dongeng seri Timun Mas, Kerbau Pak Tani, Kisah Nyamuk dan Manusia, Kerbau dan Sapi yang tertukar bajunya dan bacaan-bacaan cerpen di majalah Bobo dan majalah Mentari Putra Harapan.
Dari bangku SD hingga kuliah master di Universitas Indonesia, saya harus menelan (secara sadar dan tidak) berita negatif dari media besar atau media yang memonopoli negeri ini. Waktu SD hingga SMA, mungkin buat saya masih keren jika saya tahu berita terkini dan ikut memberikan analisa. Namun, saya tidak bisa menikmatinya lagi ketika kuliah. Saya hanya tertarik dengan Kompas Minggu. Kalaupun membaca kasus yang sedang marak, saya hanya tertarik membaca headline dan kronologis peristiwa. Saya memilih untuk membaca majalah, menonton film, mendengarkan radio yang benar-benar saya suka.
Saya menemukan diri saya tidak nyaman cuma bisa melihat tanpa berbuat apa-apa. Saya hidup di dunia saya sendiri yang indah. Yang saya rancang sendiri, sambil sesekali melihat apa yang sedang marak terjadi. Dunia terus berputar, begitu juga dengan negeri saya, yang berputar di tempatnya: mengkonsumsi sinetron, reality show, lagu cengeng mendayu-ndayu yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi setiap pagi.
Sampai satu titik, saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri. Kenapa saya tidak nyaman tinggal di negeri sendiri? Kenapa saya lebih merasa nyaman ketika saya berada di luar negeri? Saya memiliki teman-teman dan keluarga terbaik disini. Saya bepergian ke tempat-tempat terindah di negeri ini. Bahkan saya punya koleksi foto-foto yang menarik dari kejadian kecil sehari-hari di sudut-sudut kota yang saya susuri.
Tetapi sampai detik ini, saya terus terganggu dengan visualisasi menjelek-jelekan bangsa sendiri dan dibuat oleh bangsa sendiri. Saya bosan membaca berita, menonton tayangan televisi dan mendengarkan lagu-lagu cengeng yang dibuat dengan alasan: selera pasar! Siapa pasarnya? Kita semua yang cengeng dan merasa kerdil? Atau kalau saya tidak mau mengaku dan mau menuduh yang lain: sebagian besar target market yang cengeng dan merasa dirinya kerdil?
Suatu stimulus telah terstruktur dan eksis di lingkungan kita. Stimulus ini dipublikasikan dan diinformasikan oleh industri kepada masyarakat (McArthur & Baron, 1983). Dan yang saya maksud stimulus disini adalah berita-sinetron seru dan lagu mendayu-dayu yang eksis dalam keseharian kita. Apakah kita mau terus-menerus membiarkan diri kita dibuai oleh stimulus berita-sinetron seru dan lagu mendayu-dayu yang terus mengarahkan visualisasi kita menjadi cenderung negatif?
Tentunya pilihannya ada pada kita. Dan karena saya sudah bosan dengan visualisasi tentang bangsa sendiri yang hampir tidak menarik oleh media besar, saya mau memvisualisasikan versi saya sendiri.
Pertama, saya akan berangkat dari kota pintu gerbang negeri ini. Saya membayangkan setiap orang berangkat ke tempat aktivitas di pagi hari dengan tubuh dan pikiran yang segar. Transportasi yang nyaman. Tanpa macet. entah dengan Subway atau MRT. Pokoknya hari Senin seindah hari Minggu.
Di setiap sudut kota, saya melihat orang lebih memilih tayangan yang mengalirkan energi positif ke tubuh dan pikiran mereka. Lagu-lagu cengeng yang membuat diri sendiri merasa kerdil telah damai di alam kuburnya. Tidak ada lagi orang yang mengaku (dan terus membiarkan) dirinya menjadi rakyat kecil yang selalu membutuhkan bantuan sekaligus menyalahkan pemerintah. Tidak ada lagi barisan orang-orang yang berteriak menyalahkan pemerintahan yang korup. Dan bahkan, Indonesia adalah salah satu negara teraman dan ternyaman untuk tinggal di dunia. Tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah salah satu bonusnya.
Berangkat dari mana semua itu? Berangkat dari visualisasi diri setiap orang Indonesia. Berangkat dari kemauan kita untuk memvisualisasikan (dan nantinya akan mewujudkan) apa yang benar-benar kita inginkan. Minimal diri saya sendiri. Dan juga melalui tulisan ini, saya mengajak teman-teman untuk secara sadar: memilah apapun yang ingin kita visualisasikan. Memilah bacaan, tontonan dan lagu yang ingin kita dengarkan. Memang tidak mudah, karena kita tidak tinggal di hutan yang hanya mendapatkan stimulus yang seindah nyanyian burung dan jernihnya suara sungai. Karena tanpa kita minta pun, berita dan tontonan “seru diiringi lagu mendayu-dayu adalah keseharian kita di jalanan, di luar sana.
Itu cuma visualisasi singkat saya yang merasa gerah dengan berita-sinetron seru-lagu mendayu. Anda tentunya punya sisi lain yang menarik perhatian Anda.
Jadi bagaimana visualisasi ideal Anda tentang negeri ini (Yang dimulai dari diri sendiri) ?